Syi'ah & Khawarij

Materi Pembelajaran

Materi

SEJARAH MUNCULNYA ALIRAN KHAWARIJ'

Terjadinya peristiwa tahkim atau arbitrase mengakibatkan pihak Ali dirugikan. Akhirnya Ali bin Abi Thalib kembali ke Kufah, tetapi hanya bersama dengan Sebagian tentaranya saja. Adapun yang sebagiannya lagi telah memisahkan diri dan memberontak Ali bin Abi Thalib. Kelompok yang memisahkan diri dan memberontak Ali bin Abi Thalib tersebut dinamakan Khawarij.

Khawarij merupakan pengikut Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi setelah terjadinya tahkim atau arbitrase, mereka keluar dan memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib, karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima ajakan tahkim atau arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawwiyyah bin Abu Sufyan. Mereka menentang arbitrase atau tahkim dengan prinsip "La hukma Illa Lillah, yaitu tidak ada hukum kecuali dari Allah". Dengan prinsip tersebut mereka dikenal dengan nama "Muhakkimah", artinya mereka adalah orang-orang yang berpendapat bahwa "tidak ada hukum selain dari Allah".

Nama Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dan memisahkan diri dari Barisan Ali bin Abi Thalib. Tetapi ada yang berpendapat bahwa pemberian nama itu didasarkan atas ayat QS. An-Nisa' : 100 menyebutkan :

﴿ ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ ١٠٠ ﴾

"Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dengan demikian kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Kaum Khawarij, kadang-kadang juga menyebut golongan mereka kaum Syurah,yang berasal dari kata Yasyri (menjual), sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 207 :

﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ٢٠٧ ﴾

" Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba(-Nya).

Kaum Khawarij juga sering disebut Haruriyah, dari kata Harura yaitu nama desa yang terletak di dekat Kufah di Irak. Di tempat inilah mereka berkumpul setelah memisahkan diri dari Ali bin Abi Thalib, mereka berjumlah sekitar 12.000 orang dengan memilih Abdullah Ibn Wahab al-Rasidi dari Banu 'Azd sebagai pemimpin mereka. Setelah pergi ke Harura, mereka tidak mau masuk ke Kufah. Padahal mereka adalah orang-orang yang tadinya memaksa Ali bin Abi Thalib untuk menerima usul bertahkim yang dikemukakan oleh golongan Muawiyyah.

Ali ra. Pergi mendatangi orang-orang Khawarij itu, dan berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, Apakah kamu mengetahui adanya seseorang yang lebih benci daripadaku untuk bertahkim?" Mereka menjawab: "Tidak!. Ali ra. Berkata lagi : "Apakah kamu tahu, bahwa kamulah yang memaksa aku, sehingga akum au menerima tahkim?" Jawab mereka:"Ya, benar". Ali bertanya lagi, "Lalu apa yang menyebabkan kalian meninggalkan aku?". Jawab mereka : "Kami telah berbuat suatu dosa yang besar, sebab itu kami bertobat kepada Allah. Hendaklah engkau bertobat pula kepada Allah SWT. Dan mohonlah ampun kepada-Nya, agar kami kembali lagi kepadamu!" Maka Ali ra, berkata: "Aku mohon ampun kepada Allah SWT atas semua dosaku!". Sesudah itu mereka kembali Bersama Ali ra. Mereka semua berjumlah kira-kira 6000 orang.

Di Kufah, Khawarij menyiarkan bahwa Ali ra. Menganggap bertahkim itu suatu dosa dan telah menyesal dan berbalik dari putusan itu, dan dia telah meminta ampun kepada Allah SWT. Atas dosanya itu. Kemudian datanglah Al-Asy'ats kepada Ali ra. Menanyakan hal itu. Maka Ali ra. Menjawab: "Barang siapa mengatakan bahwa aku telah berbalik dari putusan untuk bertahkim, orang itu adalah dusta. Dan siapa yang menganggapnya sebagi suatu kesesatan, maka dia lebih sesat daripadanya?".

Mendengar pernyataan ini, maka orang-orang Khawarij itu keluar lagi dari golongan Ali bin Abi Thalib untuk kedua kalinya. Lalu Ali ra. Mengutus Abdullah ibnu Abbas, untuk berdialog dengan mereka, dan menjelaskan apa-apa yang masih belum jelas bagi mereka. Setelah mendengar penjelasan Abdullah Ibnu Abbas, Sebagian dari mereka yang keluar dari golongan Ali ra. Kembali lagi kepada Ali. Sebagian lagi terkalahkan oleh kebenaran dan mereka ini terus memisahkan diri dan tidak bergabung dengan Ali bin Abi Thalib.

Semakin lama kelompok Khawarij semakin membesar, hingga bulan Ramadhan atau Syawal tahun 37 H jumlah mereka sudah mencapai 12.000 orang. Dan mereka kemudian pindah ke Jukha, sebuah desa yang terletak di tepi Barat Sungai Tigris. Secara diam-diam Sebagian mereka pergi meninggalkan Jukha, berencana pindah ke Al-Madain tapi ditolak oleh Gubernur setempat. Akhirnya mereka pergi ke Nahrawan. Jumlah mereka yang berkumpul di Nahrawan mencapai 4.000 orang di bawah pimpinan Abdullah bin Wahab ar-Rasidi. Semula Ali tidak menanggapi secara serius Gerakan-gerakan orang Khawarij tersebut, sampai Ali mendengar berita tentang kekejaman mereka terhadap orang-orang Islam yang tidak mendukung pendapat mereka. Diantara yang menjadi korban adalah Abdullah bin Khabbab yang merupakan salah satu anak sahabat Nabi. Abu Zahra mengutip kisah kematian putera Khabbab dari buku Al-Kamil karya Al-Mubarrad sebagai berikut :

"Pada suatu hari sekelompok Khawarij berjumpa seorang Muslim dan seorang Nasrani. Mereka membunuh si Muslim tetapi berpesan pada si Nasrani agar melakukan kebaikan sambal berseru "Jagalah janji Nabi kalian!" kemudian ketika itu, Abdullah Ibn Khabbab sedang membawa mushaf di pundaknya Bersama isterinya yang sedang hamil berjalan menjumpai mereka. Lantas mereka menegur, Abdullah, dengan mengatakan, "Sesungguhnya apa yang kamu bawa di pundakmu itu menyuruh kami untuk membunuhmu". Kemudian mereka bertanya lagi,"Bagaimana menurut pendapatmu mengenai Abu Bakar dan Umar?". Abdullah menjawab,"Aku memuji kedua beliau itu". Mereka bertanya lagi,"Bagaimana pendapatmu mengenai Ali sebelum tahkim dan mengenai Usman dalam kekhalifahannya selama enam tahun?". Abdullah menjawab,"Aku juga memuji kedua beliau itu". Lalu Khawarij masih bertanya,"Bagaimana pendapatmu mengenai tahkim?". Abdullah menjawab,"Sesungguhnya Ali itu lebih tahu tentang Kitab Allah daripada kalian semua, lebih taqwa dari kalian dalam beragama, dan beliau lebih mengena pandangannya daripada kalian semua". Maka Khawarij mengatakan,"Kamu ini tidak mengikuti hidayah, tapi kmu hanya mengikuti mereka atas nama mereka." Akhirnya Khawarij menyeret Abdullah ke tepi sungai dan menyembelihnya di sana. Setelah itu Khawarij tawar menawar  dengan orang laki-laki Nasrani tentang pohon kurma. Orang Nasrani itu mengatakan,"Ambil saja, pohon kurma itu milik kalian!". Mereka menjawab, "Demi Tuhan, kami tidak mau membawa kurma ini kecuali dengan harga." Orang Nasrani itu lalu berkata dengan keheranan,"Ini benar-benar aneh, kalin berani membunuh orang seperti Abdullah Ibn Khabbab, tetapi kalian tidak mau menerima kurma kami ini kecuali dengan harga."

Ali bin Abi Thalib kemudian mengirim utusan untuk membujuk dan menyadarkan mereka. Ali menawarkan kepada mereka untuk kembali bergabung dengannya Bersama-sama menuju Syiria atau pulang ke kampung masing-masing. Sebagian memenuhi anjuran Ali; ada yang bergabung kembali adan ada juga yang pulang kampung serta menyingkir ke daerah lain. Namun ada sekitar 1.800 orang yang tetap membangkang. Mereka menyerang pasukan Ali pada tanggal 9 Shafar 38 H yang dikenal dengan Pertempuran Nahrawan yang mengenaskan itu. Hampir semua mereka mati terbunuh. Hanya delapan orang saja yang selamat.

Sejak peristiwa Nahrawan itulah kelompok Khawarij yang terpencar di beberapa daerah semakin radikal dan kejam Ada tiga orang Khawarij, yakni Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, Al-Burak bin Abdillah at-Tamimi, dan 'Amr bin Bukair at-Tamimi, mereka berkumpul di Mekah membuat kesepakatan Bersama dan bertekad untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah bin Abu Sufyan, Amr bin 'Ash, dan Abu Musa Al-Asy'ari. Singkat cerita dari keempat sahabat tersebut, yang mati terbunuh adalah Ali bin Abi Thalib oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradi. Abdurrahman bin Muljam menginjakkan kakinya di Kufah. Dia menampakkan kebaikan dan ibadah serta menyembunyikan rencana jahatnya untuk membunuh Ali bin Abi Thalib. Dengan sembunyi-sembunyi, dia menemui kawan-kawan Khawarij-nya. Dalam waktu yang cukup lama di Kufah, dia matangkan rencana, dia siapkan pedang yang dia rendam dalam racun untuk menegakkan "jihad" ala nafsunya dalam membunuh Amirul mukminin. Demikian setan membisikkan kesesatan di relung hatinya. Malam Jum'at, 17 Ramadhan adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh Ali. Di tengah keheningan akhir malam, Ibnu Muljam mendapati Ali bin Abi Thalib berjalan. Dengan penuh ketawadu'an kepada Allah dan penuh kecintaan pada Allah, Ali bin Abi Thalib keluar menuju Shalat Subuh, untuk berdiri di hadapan Allah. Dengan tiba-tiba, Ibnu Muljam menebaskan pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah Ali bin Abi Thalib, tepat mengenai kening yang pernah diisyaratkan Rasulullah dengan telunjuk beliau.

Tentang terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, jauh-jauh hari Rasulullah Saw. Telah mengabarkan kepada Ali bin Abi Thalib tentang musibah yang akan menimpanya. Rasulullah Saw bersabda:"orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia yang paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai Ali,"seraya Rasulullah menunjuk kening Ali, letak anggota tubuh Ali yang akan terkena tebasan pedang pembunuhnya.

Setelah Ali bin Abi Thalib wafat terbunuh dan Hasan bin Ali menyerahkan Khalifah kepada Mu'awiyyah dan Husein wafat di Padang Karbella, maka Khawarij tidak bertambah mundur, tapi malah bertambah garang untuk melawan Muawiyyah. Dengan membangun Gerakan Khawarij bercabang 2, yaitu satu bermarkas di Bathaih yang menguasai dan mengontrol kaum Khawarij yang berada di Persia dan satu lagi di Kiraman untuk daerah sekeliling Iraq. Cabang kedua di Arab yang menguasai kaum Khawarij yang berada di Yaman, Hadramaut dan Taif.

Kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup di padang pasir yang serba tandus membuat mereka sederhan dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati serta berani, dan bersikap merdeka, tidak bergantung pada orang lain. Perubahan agama tidak membawa perubahan dalam sifat-sifat ke-Badawian mereka. Mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tak gentar mati. Sebagai orang Badawi mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran Islam, sebagaimana terdapat dalam al-Qur'an dan Hadis, mereka artikan menurut lafazdnya dan harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang yang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatic. Iman yang tebal, tetatpi sempit, ditambah lagi dengan sikap fanatic ini membuat mereka tidak bisa mentolerir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka, walaupun hanya penyimpangan dalam bentuk kecil.

Disinilah letak penjelasannya, bagaimana mudahnya kaum Khawarij terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil serta dapat pula dimengerti mengapa mereka terus-menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam yang ada pada zamannya. Golongan Khawarij pada umumnya telah tidak kelihatan adanya kecuali golongan Al-Ibadiah yang masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zamsibar, Afrika Utara, dan Arabia Selatan, Al-Jazair, dan Oman di Jazirah Arab, dengan jumlah seluruhnya, menurut pendapat Ahmad Amin, hanya sekitar 25.000 orang saja.